Minggu, 25 September 2016

Kenangan Manis

Rinai hujan boleh saja menghalangi dirimu untuk bangkit dari peraduan
Aku tidak melarangmu berbaring seharian
Tapi Sayang, jarum jam kita belum berhenti berdetik
pergi perlahan memungut sisa-sisa waktu kita berdua
Dalam suatu lini yang terkadang fiksi.

Pantai kita, sumber dari sini

Firasatku mengatakan bahwa merangkak tua belum menjadi kepastian kita
Bagaimana kalau Para Dewa bersekongkol memisahkan kita?
Abrasi dan erosi menghunjam tanah dan karang yang kita pijak, Sayang.
Aku enggan tenggelam dalam rutinitas
di mana kini jiwa muda kita menggelegak.

Dunia bukan milik kita berdua, Sayang.
Suatu saat kita hanya akan menjadi memoar dalam hati manusia-manusia yang menyayangi kita.
Semoga apa yang kita tinggalkan menjadi kenangan indah, Sayang.

Selasa, 02 Februari 2016

Musola Rumah Sakit



Tanpa mencari bagaimana cara menulis “musola” yang sesuai EYD.

Pada hakikatnya manusia itu berjuang, berjuang mendapatkan nilai yang baik secara akademis, berusaha mendapat perhatian dari lawan jenis yang disukainya, berusaha menghidupi anak-anaknya, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum atau bahkan sekadar berjuang membuang kotoran dalam perut di kamar mandi.

Saat ini gue sedang berjuang, lagi, iya setelah kenikmatan yang telah habis direguk seusai menyelesaikan studi, gue berjuang mencari kerja. Cukuplah dengan ucapan basi: Jadi wirausahawan aja, bisa jadi bos. Sama kaya soal makanan favorit, kita ngga bisa memaksakan makanan yang menurut kita enak ke semua orang, everybody has their own taste. Jadi pikirin aja diri lo sendiri ya. Tapi enterpreneurship adalah bidang yang menjadi pilihan kesekian gue, tapi juga pasti akan gue jalani nanti. Gue sedang berminat mendaki tangga di korporasi yang bernama “karir”.

Gue emang selektif, karena gue lebih memilih ngelamar sedikit tapi sesuai dengan kemampuan dan tentu saja minat gue, mungkin itu alesan gue masih di rumah. Atau mungkin aja gue belum beruntung.

Sama kaya mayoritas orang, di saat udah bersusah payah berikhtiar, gue cuma bisa doa. Sebuah tindakan yang menurut gue merupakan tanda kita sadar bahwa manusia itu punya batasan, jadi ya tinggal serahkan aja sama Yang Maha Memiliki Hidup.

Tanpa bermaksud pamer, gue emang jadi lebih rajin solat di masjid atau musola deket rumah. Suami-able banget yak?

You know, aktivitas setelah solat adalah berdoa. Dan yah, ya gue berdoa. Sedikit merasa malu ke Tuhan karena gue hanya muncul di rumah-Nya saat ada maunya, gue memanjatkan munajat-munajat yang udah khatam di luar kepala, lalu cabut dari situ. Yah dan begitu seterusnya, gitu-gitu aja. Serasa ada yang kurang, dan gue tau itu apa. Ke-khusyu-an.

Gue nggak khusyu berdoanya, apa adanya, seakan-akan aktivitas itu ngga sungguh-sungguh dan sekadar setor muka. Makanya gue selalu berpikir untuk tidak ikut campur apalagi sampai memaksakan orang lain untuk ibadah, itu kan urusan dia dan Tuhannya, masa dia beribadah hanya demi, siapa tadi yang suruh? Kita? Cukup mengingatkan, jangan dipaksa.

Gue teringat saat almarhum Aki gue masih ada.

Saat gue ngejagain aki di rumah sakit, di malam hari gue menyempatkan untuk solat malam, memohon kesembuhan, merapalkan doa-doa yang gue tau, fokus untuk kesembuhan sosok tercinta, agar bisa pulang ke rumah. Gue melihat orang-orang lain di sana juga memanjatkan doa serupa, menengadahkan kepala dan tangan, berusaha meminta ke Yang Maha Tinggi. Bersungguh-sungguh dan khusyu, tak jarang air mata berderai karena kesungguhan hati yang mendamba sehatnya orang terkasih.

Tanpa mendiskreditkan musola atau masjid di tempat lain. Di musola rumah sakitlah, menurut gue salah satu tempat di mana sang hamba dan Penciptanya bisa berkomunikasi, lebih dekat, lebih erat, lebih. Bukankah seharusnya memang begitu saat sedang berkomunikasi dengan Tuhan? Kualitas spiritual gue serasa meningkat jutaan kali lipat di sana.Gue tau di manapun kita bisa khusyu, tapi gue rasa kesedihan para penjaga di rumah sakit itu terasa somehow indah dan benar, mereka sama seperti gue, ingin anak, istri, suami, ayah, ibu, saudara, sahabat, serta kerabat mereka kembali sehat seperti sediakala. Sama seperti gue yang mendoakan kesembuhan untuk aki, begitu juga saat kakek gue sakit, di masjid rumah sakit gue mendoakan hal yang sama. I got the point now. Gue hanya ingat kepada-Nya saat sedang sedih dan memerlukan sesuatu, di mana gue saat sedang jaya? Pretty ironic.

Untuk Aki Wawan yang wafat agustus silam dan Kakek Mamet yang meninggal januari lalu.

Minggu, 10 Januari 2016

Gadis dengan Kawah di Pipinya



Aku awalnya tidak hirau akan kehadirannya, aku orang yang tidak percaya dengan konsep cinta pada pandangan pertama, mungkin disebabkan aku bukanlah orang yang mudah untuk mengingat wajah.
Kulitnya semulus marmer yang menghiasi Taj Mahal, rambutnya hitam selegam malam, membuat mata yang memandangnya seakan beresonansi pada kedamaian. Senyumnya, ah aku tak sanggup mengutarakannya padamu kawan, kalau kamu ikut menyukainya, bisa berabe aku.
Aku  kini sedang melacak file memori di perpustakaan ingatanku, berselancar di antara begitu banyak kenangan, saat aku pertama kali masuk sekolah, kala aku menjuarai piala futsal tingkat RT, ketika aku mengalahkan rivalku di lomba balap karung, tatkala aku terjatuh dari motor, saat aku dimarahi oleh dosenku, sayangnya semua memori itu tidak lagi menggugahku. Aku memilih tenggelam di dalam ruang khusus, imaji mengenai aku dan si gadis. Aku terhenyak saat ia mengajakku bicara, aku merasa seperti pesawat yang terseret dalam pesona mistik segitiga bermuda, radarku langsung tiada guna, ketika aku berhasil mencipta tawanya dengan leluconku, aku bak serombongan kafilah yang menemukan oase di penghujung mati.
Burung camarku terpaku di mercusuarnya, saat sayapku berusaha untuk bersantai sejenak, aku terperanjat, gadis itu benar-benar mercusuar yang juga memesona para pelaut lainnya yang sedang menanti karam. Aku bukanlah satu-satunya pejuang, aku yakin auranya yang secerah Cleopatra mampu menjatuhkan hati Julius Cesar manapun.
Aku berkaca di riak danau yang tenang, memancarkan sejuta warna sebagai bias dari surya. Kembali terulang dalam sejarah, kisah Pungguk yang merindukan Bulan. 

iya, akulah sang pungguk itu.

Manusia itu kecil, ia hanya sebutir pasir di alam semesta, namun manusia itu juga besar, ia dapat mewujudkan impiannya, itulah rangkaian kata yang pernah kubaca di suatu masa. Bendera Amerika sudah terpancang di permukaan bulan, wajah Pluto kini sudah diabadikan dalam foto. Tetapi masih ada sekian juta spesies makhluk laut yang belum berhasil kita kenali, itulah manusia. Manusia terlalu tertantang untuk berpikir jauh ke luar, seraya abai terhadap sekelilingnya. Aku, mulai hari itu, sudah menjadi manusia yang seperti itu pula. Kawan-kawanku saksinya.
Aku muak dengan kisah cinta konyol, aku lelah dengan ceritera asmara picisan. Aku yang terbiasa ingin menjadi adidaya, sampai bersedia menjadi negara dunia ketiga untuknya. Aku yakin aku orang besar, nyaliku besar, kesempatanku besar, tapi rasa ini? Rasa khawatir mendera kalbuku, mungkinkah aku hanya tergugah untuk menaklukannya? Layaknya para pria lain di luar sana, ah siapa aku yang mampu menggeneralisir manusia, Tuhan saja tidak pilih kasih pada umat-Nya, mengapa kita dengan congkak berani mengkotak-kotakan?
Baiklah kawan, kau menang, karena kau mau mendengarkan ceritaku sedari awal, kubiarkan kamu mengetahui seperti apa senyumannya. Saat dia tersenyum, ada kawah berbahaya tercipta di saat bersamaan. Kawah yang tenang, menyeretku dalam-dalam. Akhirnya aku ingin memberitahumu kawan, tadinya aku ingin kau melepaskanku dari kepungan keindahan yang fana ini, tapi kini.
Aku ingin menjadi penanggung jawab atas kawah itu. 



Gambar diambil dari sini. Hatur nuhun.

Kamis, 07 Januari 2016

Twenty sixteen.



(7/366)
Hari ketujuh di tahun baru ini belum terasa perbedaannya. Mataharinya masih sama, langitnya masih sama, nyokap dan ade-ade gue juga, alhamdulillah masih sama. Yang bedain cuma diskon di e-commerce yang gue subscribe di e-mail aja.
Pasti banyak yang mikir: “Gila, cepet amat ya waktu berlalu.” Okelah kalau nggak banyak, mungkin gue doang yang mikir begitu. Mungkin inilah bukti teori relativitasnya Einstein ya, waktu itu emang relatif  dan subjektif banget (P.s. gue ngga tau ini nyambung ama teorinya atau nggak). Waktu lagi kena macet di lampu merah kita ngeliat durasi waktunya 120 detik aja rasanya lama banget (Lampu merah simpang Dago, you’re awesome), tapi pas udah tahun baruan kita baru ngerasa kalau waktu itu berjalan dengan cepat. Karena itulah sepanjang tahun 2015 gue ngerasa ungkapan “Seize the moment” itu tepat banget, kita harus bener-bener menikmati apapun yang kita jalani, karena ya emang itu momennya. Buat gue pribadi masa depan itu cuma ada dalam pikiran kita aja, karena kita manusia berjalan linear dengan waktu, semua masa depan itu adalah masa kini, kesempatan buat berubah ya saat ini, bukan nanti.
(1-355/355)
Untuk 2015
               Gue merasa 2015 adalah tahun yang super luar biasa, tahun pengujian dan kebahagiaan. Gue kehilangan tiga anggota keluarga gue dalam waktu yang relatif berdekatan, apalagi aki yang selama ini jadi sosok pelindung buat gue, beliau meninggal di saat gue lagi menungguinya di rumah sakit, saat gue cuma berdua sama beliau. Harus gue akuin saat itulah gue menangis paling kencang sepanjang tahun itu. Gue mendapat nasihat untuk lebih mengontrol dan mengelola emosi gue, alias jangan nangis, khususnya saat kehilangan orang yang disayangi, tapi gue merasa menangis adalah bentuk ekspresi yang penting, setelah tangisan itu berhenti akan muncul penerimaan dan dari penerimaan itu gue bisa memahami bahwa aki udah pergi. Di tahun itu gue benar-benar diajari untuk ikhlas, belajar melepas.
               Di tahun 2015 pula gue mendapatkan gelar sarjana gue, setelah proses skripsi yang begitu panjang. Senang rasanya ngeliat binar haru di mata nyokap saat gue udah selesai diwisuda. Gue belajar bahwa keluarga itu cuma bangga, tapi manfaat pendidikan itu cuma gue yang rasain, karena guelah yang ngejalaninnya, keluarga hanya ngedukung. Sekarang kembali pada gue, mau gue pakai apa itu gelar, semoga bukan sekadar perpanjangan nama. Gue ucapkan terima kasih untuk segala pihak yang udah berperan dalam studi gue, kita emang ngga bisa hidup sendirian.
               Secara kepribadian gue ngerasa banyak perkembangan. Gue belajar menjadi orang yang berpikiran terbuka, gue banyak mencoba hal baru baik salah maupun benar, karena sejatinya hidup itu proses belajar. So 2015, I see you've given me much more, thank you for those greatest gifts, God. Have a good new year ahead, folks!