Langsung ke konten utama

TUA?


Gue nulis judul diatas bukan karena muka gue tua ya, tapi karena gue lagi kepikiran sesuatu nih, jadi gue tuangkan disini. Malem jumat kemaren gue pergi ke suatu tempat, bukan ke dukun bukan ke kuburan tapi ke Griya. Apakah Griya itu? Itu adalah tempat belanja kebutuhan bagi anak kos di daerah Jatinangor. Bukan… bukannya gue mau promosi, tapi emang disana murah ko (tuh kan jadi promosi). Oke jadi gue kesana bareng ka Yolla dan ka Nety buat beli kado buat senior mereka yang mau menikah, mereka mutusin buat beli barang elekronik. Jadi selama nungguin mereka gue keliling tuh toko sebentar, yaa sekitar empat harianlah gue muter-muter. Gue terpaku pada rak yang majang kolor….. gue langsung sadar kalo gue belum nyuci…… Tapi bukan itu masalahnya, di sebelah rak kolor ada rak boneka dan itu ngga menarik minat gue (walaupun boneka bekantannya oenyoe beud looh) tapi rak sebelahnya lagi yang menarik seluruh perhatian, cinta dan kasih sayang gue yaitu raaak…. Mainan (treeeteeett *backsound lagu Spongebob)
Yaaah raknya ga gitu gede sih, maenannya juga ga banyak, harganya juga buat gue ga mahal, kalo gue beli satu tuh maenan paling gue ngga makan sebulan. Dan yang gue perhatiin dari maenan itu adalah “maenannya canggih tapi… ko gue ngga tertarik beli ya?” Tanya gue pada rumput yang bergoyang diterpa angin bahorok. Teringat waktu jaman gue SD dulu….
Ya tentu gue pernah masuk SD, sebenernya mah gue pengennya langsung kuliah tapi karena nyokap gue kayanya cinta ama program WAJIB BELAJAR SEMBILAN TAHUN yaa gue masuk SDlah. Dulu tiap ikut nyokap ke toserba atau swalayan atau supermarket atau ngegahol di Grand Indonesia (anjir) gue suka mencar. Bukannya mencar kayak tim SAR yang nyari orang yang kejepit lift atau nyari satpam yang punya affair sama SPG-SPG yang seksi bohay semok bahenol, tapi buat ke tempat buku dan maenan. Ya gue suka banget baca buku, kebiasaan sejak kecil emang sulit dihilangin, ngga cuma buku, gue juga baca Koran, majalah, tulisan di sampul Chiki atau di snack Zeky yang rasa kaldu ayam atau nama orang tua temen-temen gue di rapotnya, gue juga suka baca tulisan di kertas bungkus gorengan dan nasi uduk. Lho? Ngga masalah kan? Bukannya perintah Allah yang pertama turun ke Rasul itu bukannya haji atau mandi, tapi IQRA (BACALAH) jadi atas dasar itu gue semakin rajin membaca. Gue selalu nyempetin baca buku di tempat itu, walaupun bukunya disegel semua tapi pasti gue robek plastiknya (jangan ditiru ya nak) soalnya gue penasaran, udah gitu buku2 tersebut bersampul sangat menarik, yaitu gambar Doraemon belanja BH ama Pikachu yang kuliah ama Obama di salah satu universitas. Oke back to topic, setelah puas baca, gue ke tempat maenan, dan waow terkagum-kagum sendirian, banyak maenan warna-warni dan bagus yang ngga mungkin gue miliki semuanya, gue cuma megang, ngeliatin, kagum, terus ngompol (eh ngga deng). Selalu begitu setiap nganter nyokap belanja, abis daripada ngeliatin dia milih-milih sabun yang sebenarnya ngga ada bedanya itu, mending gue kelayapan kan? Tapi kenikmatan itu mulai berkurang seiring bertambahnya umur, memang masih gue mampir ke tempat buku, tapi gue ngga pernah ke tempat maenan lagi abis mau ngapain? Nggak ada sensasi yang gue rasain semasa kecil saat memegang maenan super canggih kaya jaman sekarang. Dasar tua y ague? Beban dan tanggung jawab hidup semakin banyak dan kedewasaan berkembang perlahan-lahan, tapi tetap aja, sensasi saat memegang maenan itu sangat gue rindukan. Ternyata masa yang paling bahagia adalah masa kecil, bebas, santai dan penuh rasa ingin tau, ALANGKAH BETAPA TERAMAT SANGAT GUE MERINDUKAN MASA KECIL YANG INDAH BANGET SEKALI ITU. L TAPI JADI TUA ITU PASTI, DAN DEWASA ITU PILIHAN, gue akan menikmati sisa masa remaja gue yang luar biasa ini sepuasnya…….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surah Al Insyirah dan Utopia

Tinggi, tinggi, tinggi. Hirau, hirau, hirau, hirau, abai. Sesaat kamu pernah merasa di atas ombak banyu dari pasar malam keliling yang sedang mampir di daerah rumahmu. Kamu duduk berpegangan, saat wahana berputar kau tertawa, kencang, sekencang peganganmu agar tidak jatuh.      Gambar bersumber dari sini , terima kasih. Kamu takut sekali jatuh, tapi sisi dirimu yang lain meyakinkamu bahwa petualangan ini patut dicoba, dahaga akan adrenalinmu membalut semua kekhawatiran. Kamu berteriak sekencang-kencangnya, kamu tidak perlu takut atau malu, karena semua orang juga begitu. Argumentum ad Populum kah itu? Saat semua orang melakukannya juga berarti itulah kebenaran (mungkin analoginya kurang tepat, tapi You got the point .) Kala pandemi ini membuatmu seperti berjalan di jembatan dengan pondasi hanya seutas tali, kamu mau sampai di seberang, tapi kamu takut jatuh, tapi kamu takut untuk tetap diam di sini, kamu takut untuk menyeberang, kamu takut jatuh, kamu takut kepastian yan...

Musola Rumah Sakit

Tanpa mencari bagaimana cara menulis “musola” yang sesuai EYD. Pada hakikatnya manusia itu berjuang, berjuang mendapatkan nilai yang baik secara akademis, berusaha mendapat perhatian dari lawan jenis yang disukainya, berusaha menghidupi anak-anaknya, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum atau bahkan sekadar berjuang membuang kotoran dalam perut di kamar mandi. Saat ini gue sedang berjuang, lagi, iya setelah kenikmatan yang telah habis direguk seusai menyelesaikan studi, gue berjuang mencari kerja. Cukuplah dengan ucapan basi: Jadi wirausahawan aja, bisa jadi bos. Sama kaya soal makanan favorit, kita ngga bisa memaksakan makanan yang menurut kita enak ke semua orang, everybody has their own taste . Jadi pikirin aja diri lo sendiri ya. Tapi enterpreneurship adalah bidang yang menjadi pilihan kesekian gue, tapi juga pasti akan gue jalani nanti. Gue sedang berminat mendaki tangga di korporasi yang bernama “karir”. Gue emang selektif, karena gue lebih memili...

Kenangan Manis

Rinai hujan boleh saja menghalangi dirimu untuk bangkit dari peraduan Aku tidak melarangmu berbaring seharian Tapi Sayang, jarum jam kita belum berhenti berdetik pergi perlahan memungut sisa-sisa waktu kita berdua Dalam suatu lini yang terkadang fiksi. Pantai kita, sumber dari sini Firasatku mengatakan bahwa merangkak tua belum menjadi kepastian kita Bagaimana kalau Para Dewa bersekongkol memisahkan kita? Abrasi dan erosi menghunjam tanah dan karang yang kita pijak, Sayang. Aku enggan tenggelam dalam rutinitas di mana kini jiwa muda kita menggelegak. Dunia bukan milik kita berdua, Sayang. Suatu saat kita hanya akan menjadi memoar dalam hati manusia-manusia yang menyayangi kita. Semoga apa yang kita tinggalkan menjadi kenangan indah, Sayang.