Langsung ke konten utama

Billionaire


Hari ini gue nonton film bagus, judulnya Billionaire. Awalnya gue super nggak tertarik nonton film motivasi, nih dialog waktu sebelum nonton:
Lena: Ram ada film bagus loooh
Gue: Terus gue harus bilang WOW gitu?
Lena: Iih bukan, tonton deh filmnya bagus banget, tentang motivasi-motivasi gituh
Gue: Cih, kaga tertarik, seruan baca kalo motivasi mah
Lena: (Terdiam sesaat)
Gue: (ketakutan, soalnya kalo orang diem-diem gitu suka tiba-tiba bau, kan gue juga yang susah)
CUKUCUKUKCUK
Bunyi apakah itu? Tenang, itu adalah bunyi langkah ka Yola dan mbak Linda yang datang ke ruang tamu, jadi jangan panik sodara-sodara
Ka Yola: Ka Lena, Rama tuh baksonya udah siap
Mbak Linda: Ambil sendiri di dapur ya, masih panas soalnya
Lena dan gue pun bergegas ke dapur, gue yakin pikiran kami sama. Kami mengacu pada suatu rumus ciptaan gue, yaitu:
KA YOLA/MBAK LINDA/KA NETY MASAK + GUE DITAWARIN = PENGIRITAN BESAR-BESARAAAN!
Sungguh sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa telah memberi perut gue yang seperapat pack ini makanan berupa bakso gratis yang akan memperbaiki gizi yang masuk ke tubuh bujangan kerempeng seksi ini. Sesampainya di dapur gue terperanjat! Jenggot gue langsung berdiri (fyi:baru tiga hari sebelumnya gue cukuran). Ternyata itu bukan bakso sembarang bakso sodara-sodara sebangsa dan setanah air, bakso itu teramat sangat lengkap sekali banget. Isinya tidak hanya bakso, ada juga sepotong telur, ditambah banyak tahu kuning (yeiks!) juga soun yang cukup banyak (wow) dan………. Sayuran! Asal sodara-sodara tau aje ya, gue paling kaga doyan sayuran dari kecil, entah mengapa hal yang memalukan ini terjadi. Gue jadi teringat sebuah percakapan antara gue dan seseorang:
Kita sebut saja dia Mawar (nama disamarkan). Pas gue ketemu mawar, gue langsung nangis segalon.
Mawar: Ram kamu kenapa? (panik)
Gue: Gue mau ngomong war… (nangis udah dua galon terus ditadahin nyokap buat persediaan minum selama kemarau)
Mawar: Kenapa Ram????????????????
Gue: Mawar………….
Mawar: Apaaaaa? (dengan nada suara afika)
Gue: Mawar maafin Marwan ya pliiss, gue tau lo berpendirian teguh, walaupun Ayu Ting-Ting minta maaf lo tetep bergeming, sama kaya pemerintah yang tetep naekin harga BBM walopun cuma ditunda. Tapi gue mohon maafin Marwan yaa…. (nangis tambah tersedu-sedu)
Mawar: Waah langitnya cerah eaa (pura-pura ngga denger pidato gue)
Gue langsung berhenti nangis, soalnya gawat juga kalo kelamaan, ntar nyokap gue malah buka bisnis aqua isi ulang. Tapi gue mikir lagi, kalo nyokap gue bisnis berarti duit bulanan gue bisa bertambah juga dan dompet gue ngga anorexia lagi.
Mawar: Ram, ngapa sih ngga doyan sayur?
Gue: Tanya saja pada rumput yang bergoyang war, tanyakan saja padanya….
Mawar: Padahal sayuran enak looh. Ada sayur baru lagi!
Gue: Apaan?
Mawar: Pake ini dulu yaaa (makein gue mukena) Tadaaaaa, Sayur Asem Rasa Jeruk mmmmhhh enyak enyak enyak enyak.
Gue: Yaiks! Rasa joroook???
Baiklah, jangan bakar blog gue, pokoknya intinya gue ngga doyan sayuran.
Dan akhirnya kita berempat makan bakso di ruang tamu sambil nonton tu film. Tadinya gue kaget, ternyata itu film Thailand, gue berpikir: Apa Korean Wave sudah berakhir???? Terlepas dari asal fim tersebut, filmnya ternyata emang bagus, sungguh menginspirasi. Perjuangan seorang anak bernama Top ( dasar orang Thailand, nanti kalo gue sutradaranya gue ganti namanya jadi Beng-Beng) supaya jadi pengusaha sukses, dia paling ngga suka belajar teori di kelas, kuliah juga jarang masuk (jadi teringat seseorang). Dari awalnya bisnis dari game online, dia udah bisa beli mobil Mazda keren ya? Terus karena digunakan untuk komersial akun dia ditutup secara tidak hormat. Akhirnya dia nyoba bisnis kacang goring, tapi adddaa aja halangannya. Saat berjualan rumput laut kering dalam kemasan nasibnya berubah, seperti apa nasibnya? Apakah usahanya sukses? Pengen tau banget banget banget banget eaa? Tonton aja kali, tapi gue bukan promosiin tu film ya, enak aja, dibayar juga kaga, membaca saja aku sulit. Yaudah ah gue mau caws dulu nih, sekian cerita gue, jangan rindukan akuh eaa? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surah Al Insyirah dan Utopia

Tinggi, tinggi, tinggi. Hirau, hirau, hirau, hirau, abai. Sesaat kamu pernah merasa di atas ombak banyu dari pasar malam keliling yang sedang mampir di daerah rumahmu. Kamu duduk berpegangan, saat wahana berputar kau tertawa, kencang, sekencang peganganmu agar tidak jatuh.      Gambar bersumber dari sini , terima kasih. Kamu takut sekali jatuh, tapi sisi dirimu yang lain meyakinkamu bahwa petualangan ini patut dicoba, dahaga akan adrenalinmu membalut semua kekhawatiran. Kamu berteriak sekencang-kencangnya, kamu tidak perlu takut atau malu, karena semua orang juga begitu. Argumentum ad Populum kah itu? Saat semua orang melakukannya juga berarti itulah kebenaran (mungkin analoginya kurang tepat, tapi You got the point .) Kala pandemi ini membuatmu seperti berjalan di jembatan dengan pondasi hanya seutas tali, kamu mau sampai di seberang, tapi kamu takut jatuh, tapi kamu takut untuk tetap diam di sini, kamu takut untuk menyeberang, kamu takut jatuh, kamu takut kepastian yan...

Musola Rumah Sakit

Tanpa mencari bagaimana cara menulis “musola” yang sesuai EYD. Pada hakikatnya manusia itu berjuang, berjuang mendapatkan nilai yang baik secara akademis, berusaha mendapat perhatian dari lawan jenis yang disukainya, berusaha menghidupi anak-anaknya, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum atau bahkan sekadar berjuang membuang kotoran dalam perut di kamar mandi. Saat ini gue sedang berjuang, lagi, iya setelah kenikmatan yang telah habis direguk seusai menyelesaikan studi, gue berjuang mencari kerja. Cukuplah dengan ucapan basi: Jadi wirausahawan aja, bisa jadi bos. Sama kaya soal makanan favorit, kita ngga bisa memaksakan makanan yang menurut kita enak ke semua orang, everybody has their own taste . Jadi pikirin aja diri lo sendiri ya. Tapi enterpreneurship adalah bidang yang menjadi pilihan kesekian gue, tapi juga pasti akan gue jalani nanti. Gue sedang berminat mendaki tangga di korporasi yang bernama “karir”. Gue emang selektif, karena gue lebih memili...

Kenangan Manis

Rinai hujan boleh saja menghalangi dirimu untuk bangkit dari peraduan Aku tidak melarangmu berbaring seharian Tapi Sayang, jarum jam kita belum berhenti berdetik pergi perlahan memungut sisa-sisa waktu kita berdua Dalam suatu lini yang terkadang fiksi. Pantai kita, sumber dari sini Firasatku mengatakan bahwa merangkak tua belum menjadi kepastian kita Bagaimana kalau Para Dewa bersekongkol memisahkan kita? Abrasi dan erosi menghunjam tanah dan karang yang kita pijak, Sayang. Aku enggan tenggelam dalam rutinitas di mana kini jiwa muda kita menggelegak. Dunia bukan milik kita berdua, Sayang. Suatu saat kita hanya akan menjadi memoar dalam hati manusia-manusia yang menyayangi kita. Semoga apa yang kita tinggalkan menjadi kenangan indah, Sayang.