Langsung ke konten utama

Surah Al Insyirah dan Utopia

Tinggi, tinggi, tinggi.

Hirau, hirau, hirau, hirau, abai.

Sesaat kamu pernah merasa di atas ombak banyu dari pasar malam keliling yang sedang mampir di daerah rumahmu. Kamu duduk berpegangan, saat wahana berputar kau tertawa, kencang, sekencang peganganmu agar tidak jatuh.

    Gambar bersumber dari sini, terima kasih.

Kamu takut sekali jatuh, tapi sisi dirimu yang lain meyakinkamu bahwa petualangan ini patut dicoba, dahaga akan adrenalinmu membalut semua kekhawatiran. Kamu berteriak sekencang-kencangnya, kamu tidak perlu takut atau malu, karena semua orang juga begitu. Argumentum ad Populum kah itu? Saat semua orang melakukannya juga berarti itulah kebenaran (mungkin analoginya kurang tepat, tapi You got the point.)

Kala pandemi ini membuatmu seperti berjalan di jembatan dengan pondasi hanya seutas tali, kamu mau sampai di seberang, tapi kamu takut jatuh, tapi kamu takut untuk tetap diam di sini, kamu takut untuk menyeberang, kamu takut jatuh, kamu takut kepastian yang kamu cari benar-benar ada di seberang, tapi kamu ragu akan sanggup, tapi kamu sadar semua tapi barusan merupakan hipotesa di benakmu saja.

Kamu berani keluar rumah, bukan, bukan untuk mencari nafkah, melainkan untuk mencari hiburan, untuk berkumpul bersama teman-temanmu, untuk menikmati bebasnya udara luar, muak dengan orang-orang yang tidak peduli dengan protokol kesehatan seperti yang kamu lihat di jejaring sosial, seakan mengalir di nadimu sebuah tekad, "Gue juga bisa kayak gitu, orang-orang aja santai kok."

    Ilustrasi gambarnya dari sini, makasih ya.

Kamu terjebak dalam utopia semu, bahwa semua akan baik-baik saja. Kamu tahu kawan? Hidup seperti ombak banyu tadi, bergelombang, naik turun, memukaumu saat tinggi, menerkammu saat rendah. Utopiamu yang berarti bahagiamu dan tawamu bersama mereka yang kamu sayang memiliki risiko. Kamu tidak akan pernah tahu permainan hidup, saat dirimu merasa bahwa dirimu yang paling baik-baik saja, ternyata kamu yang paling tidak begitu.

Mengapa itu semu? Karena utopiamu bukanlah yang abadi, itu hanya tujuanmu sementara untuk naik menuju tingkat yang lebih tinggi lagi dalam hidupmu, betapa mahal harga untuk utopia itu. Mungkin bicaraku berputar-putar, aku hanya ingin seperti dunia, berotasi pada porosnya, tapi siapa atau apa yang menjadi porosnya? Mungkinkah Dia Yang Maha Mencintai seluruh umat-Nya, yang Mengetahui ke mana jantung ini akan pergi? Yang Tahu apa yang terbaik yang makhluk yang (mengaku) mencintai-Nya? Atau ini hanyalah ego semata, konsekuensi atas suatu aksi yang berlandaskan "Diriku harus bahagia."?

Belum terlambat memperbaikinya, kamu tahu itu. Entah seberapa dalam oksigen yang masih bisa kamu hirup, sebatas mana rezekimu, sejauh kakimu masih sanggup menuju hal-hal yang diridhoi-Nya. Bintang masih berkelap-kelip malam ini, purnama masih terbayang dari jendela kamarmu, ketukan-ketukan dini hari yang menggetarkan indramu, melodi malam yang berayun lembut bersama makhluk nokturnal lainnya, ke mana kamu melihat?

Terjebak di sini hanyalah untuk menyelamatkan dirimu,kamu tidak tahu betapa berbahayanya dirimu yang mampu menyakiti orang-orang bahkan dengan hanya bernafas. Kamu ragu atas semua pilihan menakutkan, meraung dalam imajinasimu, tapi bergetar hingga ke putih tulang, gema kipas angin terngiang dalam mimpimu, memori-memori masa lalu menyapamu secara tiba-tiba, inikah yang kamu inginkan? 

Kamu boleh pergi, melepasmu bukanlah yang kumau, bukan bualan yang melayang-layang di linimasa media, bukan lemari tua usang yang diwariskan nenekmu, bukan juga baju koko baru yang tidak sempat kamu pakai karena kamu nyaris tidak pernah menghadiri acara keagamaan apapun, bukan pula setumpuk kartu uno yang bisa membuat kawan menjadi lawan dalam sekejap, bukan dedauanan kering yang kamu injak saat berlari mengejar kelasmu, bukan pula ban sepeda yang mulai aus karena kau pakai untuk menempuh perjalanan yang terlalu jauh.

Kamu boleh putus asa, tapi selalu ingat, kata asa dimulai dari huruf a dan diakhiri pula dengan huruf yang sama, artinya asa itu harus hidup lagi, tanpa melupakan tangis pedih wanita yang begitu kamu cintai saat sedang menunaikan solatnya, tanpa lupa kawan-kawan yang setia di sisimu tanpa harus ada di sisimu, mereka rela melipat jarak itu, menghiburmu, ingat pula pada saudaramu yang hanya mampu bermunajat dalam diam untukmu, asa itu juga untuk darah dagingmu yang dengan kuat menendang dari dalam rahim, mereka yang berebut mencari perhatianmu yang akan selalu sama hingga akhir hayat.

Sebuah bab yang harus ditutup, memulai babak baru, menggapai ceria dan cita, dan luka untuk mengobati kedewasaanmu dari sakitnya hinaan orang-orang, standar tetangga yang terlalu tinggi, stereotip sosial yang disematkan kepadamu sejak kamu keluar dari rahim Ibumu. Berdiri di atap gedung seperti nuansa video musik yang kamu cintai, sambil menjerit melawan dunia ini, bersama dirimu, dan orang-orang yang telah kau pilih dan memang ditakdirkan untuk bersamamu.



                Sumbernya dari sini, hatur nuhun.

Mungkin surah ini bisa menenangkan hatimu, dan kembali lagi pada-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Hujan Rindupun Datang

Hari ini selasa, harusnya cuma ada matkul umum aja, tapi berhubung jumat libur, matkul Schriftlicher Ausdruck maju deh. Bete abis, kudu masuk kelas yang gede dengan puluhan mahasiswa. Gue mengikuti pelajaran dengan hati setengah-setengah, udah capek banget. Senin kemaren kelas gue padet, 8SKS! (bayangin) dari pagi ampe sore, belum lagi pulangnya rapat redaksi terus urusan humas. Gue bukan mau ngeluh ya, bacalah judulnya, kaga ada hubungannya ama kuliah. Kebetulan akhir-akhir ini sering hujan, alhamdulillah. Tadi pulang kuliah gue naek angkot gratis yang disediain kampus buat turun ke gerbang, gue duduk di samping pak supir (yang mengendarai kuda supaya baik jalannya hey! tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk) kembali ke inti, yah sepanjang perjalanan angkot gue diguyur ujan deres, sumpah asik banget buat galau. Tapi gue cuma merenung, ternyata bener artikel yang gue baca tentang hujan, bahwa hujan punya kekuatam magis untuk membangkitkan kenangan seseorang, makanya Utopia bikin lagu yang...

Kenangan Manis

Rinai hujan boleh saja menghalangi dirimu untuk bangkit dari peraduan Aku tidak melarangmu berbaring seharian Tapi Sayang, jarum jam kita belum berhenti berdetik pergi perlahan memungut sisa-sisa waktu kita berdua Dalam suatu lini yang terkadang fiksi. Pantai kita, sumber dari sini Firasatku mengatakan bahwa merangkak tua belum menjadi kepastian kita Bagaimana kalau Para Dewa bersekongkol memisahkan kita? Abrasi dan erosi menghunjam tanah dan karang yang kita pijak, Sayang. Aku enggan tenggelam dalam rutinitas di mana kini jiwa muda kita menggelegak. Dunia bukan milik kita berdua, Sayang. Suatu saat kita hanya akan menjadi memoar dalam hati manusia-manusia yang menyayangi kita. Semoga apa yang kita tinggalkan menjadi kenangan indah, Sayang.