Langsung ke konten utama

Hal-Hal Positif yang Gue Pelajari Setelah Menonton Sinetron

ngga ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surah Al Insyirah dan Utopia

Tinggi, tinggi, tinggi. Hirau, hirau, hirau, hirau, abai. Sesaat kamu pernah merasa di atas ombak banyu dari pasar malam keliling yang sedang mampir di daerah rumahmu. Kamu duduk berpegangan, saat wahana berputar kau tertawa, kencang, sekencang peganganmu agar tidak jatuh.      Gambar bersumber dari sini , terima kasih. Kamu takut sekali jatuh, tapi sisi dirimu yang lain meyakinkamu bahwa petualangan ini patut dicoba, dahaga akan adrenalinmu membalut semua kekhawatiran. Kamu berteriak sekencang-kencangnya, kamu tidak perlu takut atau malu, karena semua orang juga begitu. Argumentum ad Populum kah itu? Saat semua orang melakukannya juga berarti itulah kebenaran (mungkin analoginya kurang tepat, tapi You got the point .) Kala pandemi ini membuatmu seperti berjalan di jembatan dengan pondasi hanya seutas tali, kamu mau sampai di seberang, tapi kamu takut jatuh, tapi kamu takut untuk tetap diam di sini, kamu takut untuk menyeberang, kamu takut jatuh, kamu takut kepastian yan...

Hari Hujan Rindupun Datang

Hari ini selasa, harusnya cuma ada matkul umum aja, tapi berhubung jumat libur, matkul Schriftlicher Ausdruck maju deh. Bete abis, kudu masuk kelas yang gede dengan puluhan mahasiswa. Gue mengikuti pelajaran dengan hati setengah-setengah, udah capek banget. Senin kemaren kelas gue padet, 8SKS! (bayangin) dari pagi ampe sore, belum lagi pulangnya rapat redaksi terus urusan humas. Gue bukan mau ngeluh ya, bacalah judulnya, kaga ada hubungannya ama kuliah. Kebetulan akhir-akhir ini sering hujan, alhamdulillah. Tadi pulang kuliah gue naek angkot gratis yang disediain kampus buat turun ke gerbang, gue duduk di samping pak supir (yang mengendarai kuda supaya baik jalannya hey! tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk) kembali ke inti, yah sepanjang perjalanan angkot gue diguyur ujan deres, sumpah asik banget buat galau. Tapi gue cuma merenung, ternyata bener artikel yang gue baca tentang hujan, bahwa hujan punya kekuatam magis untuk membangkitkan kenangan seseorang, makanya Utopia bikin lagu yang...

Kenangan Manis

Rinai hujan boleh saja menghalangi dirimu untuk bangkit dari peraduan Aku tidak melarangmu berbaring seharian Tapi Sayang, jarum jam kita belum berhenti berdetik pergi perlahan memungut sisa-sisa waktu kita berdua Dalam suatu lini yang terkadang fiksi. Pantai kita, sumber dari sini Firasatku mengatakan bahwa merangkak tua belum menjadi kepastian kita Bagaimana kalau Para Dewa bersekongkol memisahkan kita? Abrasi dan erosi menghunjam tanah dan karang yang kita pijak, Sayang. Aku enggan tenggelam dalam rutinitas di mana kini jiwa muda kita menggelegak. Dunia bukan milik kita berdua, Sayang. Suatu saat kita hanya akan menjadi memoar dalam hati manusia-manusia yang menyayangi kita. Semoga apa yang kita tinggalkan menjadi kenangan indah, Sayang.